Buku Wahyu berkata, Anda memang bertanggung jawab atas perbuatan Anda, “Karena telah tiba saat penghakiman-Nya.”

      Alkitab memanggil kita kembali pada hukum Allah yang merupakan standar moral Allah yang kekal.

   Rasul Yakobus, saudara Yesus, mengatakannya begini: “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Yak.2:21).

     Seluruh hukum Allah adalah hukum kebebasan. Berikut ada sedikit contoh. Hukum keenam, “Jangan membunuh” (Kel.20:14), itu memerdekakan. Hukum itu memelihara kehidupan yang suci. Hukum ketujuh, “Jangan berzinah” (Kel.20:14), memelihara kesucian keluarga. Hukum itu melindungi lembaga pernikahan. Hukum kedelapan, “Jangan mencuri” (Kel.20:15), adalah bagian hukum kebebasan ini. Hukum itu melindungi harta benda dan tanah milik kita.

   Ini terutama berlaku pada hukum Sabat. Hukum keempat, “Ingatlah hari Sabat” membebaskan dari perbudakan pekerjaan dan usaha keras yang memperbudak kita pada system nilai dunia.

    Sabat, lebih sekedar suatu hari tertentu, itu memberikan bagi para orangtua suatu kesempatan untuk menyalurkan nilai-nilai moral kepada anak-anak mereka. Hal itu menciptakan suatu suasana bagi keluarga  dan sahabat-sahabat untuk memiliki kembali kerohanian di suatu zaman sekulerisme.

     Sabat secara nyata dirancang oleh Allah untuk menciptakan kembali pengalaman Eden. Allah merindukan persekutuan  dengan anak-anak-Nya  dan seperti  orangtua yang mengasihi dengan keinginan besar menantikan panggilan telepon, sebuah kartu ataui surat elektronik salah satu anak-anak berharga mereka, begitu pula Allah sendiri merindukan persekutuan dengan kita dalam suatu kekekalan rasa tiap Sabat.

      Apakah Anda memperhatikan bahwa pekabaran zaman akhir Allah bagi umat manusia, yang digambarkan disampaikan oleh tiga malaikat di langit, berseru dengan suara nyaring, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (Why. 14.7). Sabat berbicara kepada kita tentang Pencipta  penuh kasih. Tiap pekan kita di ingatkan bahwa kita bukan berevolusi. Kita ini anak-anak Raja alam semesta. Kita bukan produk kebetulan. Kehidupan  kita bukan suatu bukan kumpulan  peristiwa serampangan di mana kita tidak memiliki kendali. Kepribadian dan tabiat kita bukan semata-mata  produk keturunan dan lingkungan kita. Ada kekuatan yang lebih besar dari semua pengalaman  buruk yang lebih besar  dari semua pengalaman buruk yang lebih besar dari semua pengalam buruk yang telah menggores  pikiran kita. Yakni kekuatan Pencipta. Allah penciptaan bisa menciptakan kemabli pola pikir kita. Ia bisa mengubahkan perilaku kita. Ia bisa menyembuhkan kita dari dalam. Dan inilah arti Sabat. Dia yang bersabda dan matahari, bulan dan bintang  diciptakan; Allah yang hidup ini  bisa mengubah kehidupan Anda.

      Sabat berbicara tentang pengharapan. Kita mungkin tak berkuasa  tetapi Ia Mahakuasa. Kita mungkin lemah tetapi Ia kuat. Kita mungkin rapuh tetapi Ia itu Mahaagung.Sabat berbicara tentang Allah yang ingin menuliskan hukum-Nya pada hati dan pikiran kita sama seperti yang Ia telah lakukan pada nenek moyang pertama kita sejak permulaan.

     Sabat mengajak kita semua seperti lagu yang terkenal berkata untuk, “Memandang pada Yesus, melihat wajah-Nya yang sangat indah dan segala sesuatu di bumi akan bertumbuh ajaib di tengah terang kemuliaan dan kaih karunia-Nya.”

    Hukum Allah membebaskan kita untuk menjalani kehidupan yang berlimpah. Penurutan kepada hukum Allah adalah resep surga untuk kebahagiaan. Pikirkan tentang kekacauan seketika dalam masyarakat jika prinsip-prinsip hukum Allah, seluruh masyarakat akan berubah menjadi kekerasan massal, pelanggaran susila yang merajalela, pembajakan, perampasan,  dan malapetaka nasional.

      Hukum Allah adalah pondasi tahta-Nya. Itu adalah dasar semua hukum.

      Tetapi, seseorang berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Ef 2:8).

      Ketika Kristus disalibkan Ia dihakimi sebagai seorang pendosa yang menanggung kesalahan  dari dosa-dosa kita. Ia dihukum atas dosa-dosa kita padahal Dia tidak bersalah agar kita bisa dimaafkan untuk dosa-dosa yang kita lakukan.

      Seandainya Allah telah mengubah hukum-Nya, maka Yesus tidak harus mati.

      Alkitab berkata, “sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

    Mengapa Allah mengutus Anak-Nya untuk menderita kematian yang kejam itu, bila yang harus Ia lakukan, dengan beberapa sentuhan ajaib adalah mengubah hukum-Nya.

      Hukum dan peradilan itu semua begian Injil Kristus,”Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”  (1 Yoh. 3:4)

      Mungkin saya tidak menganggap mencuri sesuatu itu dosa, tetapi dosa adalah pelanggaran hukum Allah. Dosa itu lebih dari apa yang saya pikirkan . Inilah definisi Alkitab terhadap dosa. Dosa adalah pelanggaran hukum Allah.

     Seorang pria berkata,”Begini, saya tidak puas dalam pernikahan saya. Jadi bila saya pergi dengan sekretaris saya, itu tidak ada apa-apa karena merupakan kesepakatan dua prang dewasa.”

     Alkitab berkata, “Jangan berzina”. Hukum Allah adalah standar moral-Nya yang kekal yang menetapkan dosa dan membentuk pertanggunganjawaban kita kepada Allah.

     Dan apa yang anak-anak kita perlukan sekarang ini adalah bukanlah menu pembunuhan, kekerasan dan pelanggaran susila di televisi.

     Anak-anak kita perlu diajarkan prinsip-prinsip moral yang Allah telah berikan kepada kita.

     Hukum moral Allah melindungi kita.

    Hukum Allah bukanlah peraturan yang bisa di ubah-ubah untuk membatasi kebahagiaan kita. Hukum Allah adalah jalan menuju kebebasan dan kebahagiaan kita. Hukum Allah adalah jalan menuju kebebasan dan kebahagiaan sejati.

   Hukum Allah melindungi kita dari suatu gaya hidup yang akan menghancurkan kita. Beberapa orang Kristen bahkan telah berkata, “Kami tidak mengkhotbahkan hukum di gereja kami. Kami mengkhotbahkan tentan kasih-Nya.” Seolah-olah itu adalah dua hal berbeda.

      Kasih selalu menuntun pada penurutan. Kasih tidak menuntun pada ketidakpatuhan. Kasih menuntun orang Kristen yang berserah  untuk memelihara hukum Allah. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh.14:15)

        Apakah Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu tidak harus menuruti segala perintah-Ku?” Tidak! Respons kasih adalah menuruti perintah Allah.

       Alasan kita menurut bukanlah karena kita mancoba menyenangkan Allah. Itu adalah respons kasih kepada Dia. Saya tidak menurut kepada Allah untuk memperoleh keselamatan saya. Saya menurut kepada Allah bukan untuk diselamatkan,tetapi karena saya telah diselamatkan.

        Semua penurutan saya tidak menghasilkan keselamatan. Kristus telah membentuknya di salib.

       Tetapi ketika datang ke salib, penurutan saya adalah bukti bahwa saya telah diselamatkan . 1 Yohanes 2:3,, menyatakannya dengan jelas, “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.”

         Yohanes berkata ini adalah bukti bahwa kita mengenal Allah. Di sinilah bukti bahwa kita orang percaya yang dilahirkan kembali. Inilah bukti bahwa kita-kita benar milik Kristus. “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia , tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta  dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (1 Yoh.2:4).

       Ketika kita berserah kepada Kristus, ketika kita dengan sungguh-sungguh mengenal Dia, ketika hati kita berserah kepada Dia, respons alamiahnya adalah menurut kepada Dia.

        Kasih karunia dan hukum bukanlah ide yang saling bertentangan. Bilamana Anda diselamatkan oleh kasih karunia, maka Anda tidak diselamatkan untuk tidak menurut. Anda diselamatkan untuk menurut.

       Semua keselamatan itu adalah oleh kasih karunia. Orang-orang percaya Perjanjian Lama menantikan kedatangam Kristus  kedatangan Kristus. Dalam Perjanjian Baru kita  memandang pada Kristus yang telah datang. Mereka diselamatkan oleh kasih karunia yang akan datang. Kita diselamatkan  oleh kasih karunia yang sudah tiba.

      Tetapi bila itu semua oleh kasih karunia, kalau begitu apa heran hukum Allah? Rasul Paulus menjelaskannya dengan berkata, “…karena justru oleh hukum  Taurat orang mengenal dosa” (Rm 3:20). Jika Anda mengabaikan hukum, maka Anda mengabaikan dosa. Jika tidak ada hukum maka tidak ada dosa. Jika tidak ada dosa maka tidak diperlukan kasih karunia untuk keselamatan.

        Allah menyatakan dosa melalui hukum-Nya. Paulus berkata, “Justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!” (Rm.7:7).

        Jika Anda melanggar hukum Allah, maka itu dosa . Peran hukum adalah untuk mendifinisikan  dosa. Hukum berkata, “Ini salah dan ini benar”. Hukum mendefinisikan standar moral pengadilan Allah. Hukum mendefinisikan fondasi semua masyarakat.

          Penghakiman memanggil pria dan wanita di mana saja untuk kembali pada pemeliharaan hukum.

          Memanggil orang-orang Kristen yang diselamatkan oleh kasih karunia untuk menjalani kehidupan yang patuh, benar, suci.

          Apakah peran kasih karunia?

         “Karena oleh kasih karunia engkau diselamatkan oleh iman dan bukan dari dirimu sendiri; itu adalah karunia Allah, bukan dari perbuatan, supaya tidak seorang pun menyombongkannya. “Kasih karunia itu adalah kemurahan Allah, pemberian maaf Allah, pengampunan Allah. Kasih karunia Allah adalah kuasa Allah. Kasih karunia adalah kasih Allah menjangkau kepada para pendosa. Apakah kasih karunia menyingkirkan hukum Allah?

            “Jika saya diselamatkan oleh kasih karunia apakah itu menuntun saya melanggar hukum Allah?

            “JIka demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya”(Rm. 3:31).

            Paulus berkata, “Jangan mengira kami mengesampingkan hukum dengan iman melalui kasih karunia.”

            Kita menegakkannya. Kita memeliharanya. Orang-orang yang diselamatkan oleh kasih karunia  itu patuh. Berikut ada contoh klasik tentang bagaimana kasih karunia menuntun kita memelihara hukum Allah, bukan melanggarnya.

         Beberapa tahun silam saya sedang menyajikan satu seri kebaktian kebangunan rohani bertema nubuatan Alkitab di Pesisir Timur Amerika Serikat. Suatu petang, setelah penyajian itu, saya terburu-buru mengejar pertemuan berikutnya. Saya mengendarai mobil kencang. Batas kecepatan waktu itu adalah 60 km per  jam. Saya barangkali sudah mencapai 70 km per jam. Seorang polisi menghentikan saya dan menanyakan surat izin mengemudi saya. Saya menyerahkan surat izin kependetaan saya kepada petugas itu. Petugas itu tersenyum.

            Kami berbincang sejenak. Kemudian saya berkata seperti ini.”Sejujurnya, saya baru dari pertemuan warga  dan saya mengkhotbahkan tentang hukum. Saya memberitahu orang-orang bahwa mereka harus menaati hukum, jadi bisakah Anda memberikan saya kasih karunia kali ini? Nah, petugas, Anda dan saya berada di tim yang sama. Anda menangkap mereka setelah mereka melanggar peraturan. Saya mengurangi pekerjaan Anda, jadi mohon, tidakkah Anda memberikan kasih karunia kepada saya kali saja.”

           Dengan senyum masam, polisi itu berkata, “baiklah pendeta, kali ini Anda mendapat kasih karunia, pergilah!”

           Sekarang, ketika saya melanggar hukum, apa yang pantas saya terima? Surat tilang…benar.

           Ketika saya menerima pengampunan, apakah itu melepaskan saya dari akibat hukum? Ya. Apakah itu melepaskan saya dari akibat hukum? Tentu saja tidak. Apakah saya kembali ke dalam mobil dan berkata kepada istri saya, “Sayang, saya tidak berada di bawah hukum, saya mendapat kasih karunia, dan kita bisa melaju secepat yang kita inginkan.” Apakah saya melaju 90 km per jam karena saya berada di bawah kasih karunia  petugas polisi itu? Tentu saja tidak.

         Apakah yang terjadi? Saya sekarang berada di bawah kasih karunia, jadi saya sangat berhati-hati agar tidak melanggar hukum? Karena Yesus telah menyelamatkan saya oleh kasih karunia-Nya, saya tidak ingin melanggar hukum-Nya. Saya tidak akan berpaling dari perintah-perintah-Nya.

         Ketika Anda diselamatkan oleh kasih karunia, maka Anda tidak berada di bawah hukuman. Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk mendiakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku dating bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17)

           Yesus datang bukan untuk menghapuskan hukum Taurat. Yesus datang bukan menghapuskan perintah hukum kelima yang berkata, “Hormatilah ayah dan ibumu”. Yesus datang menjadi teladan bagaimana  seorang anak menunjukkan  kasihnya dan penuh hormat kepada orangtua-Nya. Yesus datang bukan untuk menghapuskan hukum keenam, “Jangan membunuh.” Ia datang untuk menyatakan kebaikan dan kasih sayang kepada tiap orang yang Ia temui. Yesus datang bukan untuk menghapuskan hukum ketujuh, “Jangan berzina.” Ia dating untuk menjadi contoh kesucian hati.

        Tidak juga Ia datang untuk menghapuskan hukum keempat, “Ingatlah hari Sabat.” Inilah sebabnya mengapa Alkitab berkata, “menurut kebiasaa-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat” (Luk. 4:16).

         Sama seperti Yesus tidak datang untuk menghapuskan perintah, “Jangan mencuri atau berzina,” atau salah satu dari Sepuluh Hukum, maka Ia juga tidak datang untuk menghapuskan Sabat. Justru sebaliknya Yesus datang untuk menjalani suatu kehidupan penurutan penuh kasih untuk menegakkan hukum Allah. Perintah Sabat berada di tengah Sepuluh Hukum untuk satu alasan. Keempat perintah pertama menggambarkan hubungan kita kepada Allah. Keempat hukum terakhir menggambarkan hubungan kita dengan sesama manusia. Perintah Sabat  yang memanggil kita untuk menyembah Pencipta kita; adalah dasar bagi semua penurutan.

        Karena Ia sendiri adalah Pencipta kita, maka kita menyembah Dia secara eksklusif tanpad ada allah lain, tanpa patung dan tidak menyebut nama-Nya dengan sia-sia. Karena Ia adalah Pencipta kita, maka kita menghormati tiap manusia seperti diuraikan di enam perintah terakhir. Perintah Sabat menjelaskan  kepada kita dasar otoritas moral Allah dalam memberikan sepuluh Hukum. Ia menciptakan kita. Sebagai pencipta kita Ia mengetahui apa yang terbaik. Sepuluh Hukum adalah pedoman hidup dari seorang Pencipta  yang peduli, dan menghormati Dia pada hari Sabat sebagai Pencipta adalah fondasi bagi penurutan itu.

          Menurut Rasul Paulus, “Allah yang menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus” (Ef. 3:9). Sebagai Pencipta, Yesus memelihara Sabat menghormati Sabat menghormati rencana Bapa  dan sebagai model bagi perbaikan Sabat yang benar.

Ayat Hari Ini

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu

Amsal 1:8

Kutipan Hari Ini

Hidup yang murni dan suci, kehidupan yang menang atas selera dan nafsu, adalah mungkin untuk setiap orang yang mau menyatukan kelemahannya, keinginan manusia yang lemah kepada kehendak Tuhan yang kuat dan maha Kuasa

Ellen G. White, Ellen G. White, Ministry of Healing halaman 176

Apabila Anda merasa terberkati oleh pelayanan ini, dan ingin berpartisipasi melalui Donasi Anda, silahkan klik button di bawah ini.

Login Form



Alternative flash content

Requirements

Kirim Doa

Anda tidak sendirian di dunia ini. Ada saudara-saudara yang ingin berbagi untuk memikul beban bersama Anda. Sampaikan masalah Anda, dan tim doa ArtiHidupku.com akan bersatu hati dengan Anda untuk mendoakan masalah yang sedang Anda hadapi.

Pendaftar Baru

Yang Sedang Online

None

 Artihidupku
Page
 
Visit
Artihidupku
 

Alternative flash content

Requirements

Alternative flash content

Requirements

Advent TV